Hakikat Matematika
Menurut Elea Tinggih (dalam Erman, 2001: 18), perkataan matematika adalah ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar. Adapun Russefendi (dalam Erman, 2001: 18) mengatakan bahwa matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran.
Menurut James dan James dalam kamus
matematikanya (dalam
Erman, 2001: 18) bahwa
matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran dan
konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang
banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis dan geometri. Johnson
dan Rising dalam bukunya (dalam Erman, 2011: 18) juga mengatakan bahwa matematika adalah pola
berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika itu adalah
bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan
akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol
mengenai ide daripada mengenai bunyi.
Selain itu terdapat pula karakteristik
matematika menurut Abdul Halim Fathani (2008: 59) yaitu sebagai berikut:
a.
Matematika
memiliki objek kajian abstrak yang terdiri dari:
1)
Fakta
Fakta adalah pemufakatan atau konvensi
dalam matematika yang biasanya diungkapkan melalui simbol-simbol tertentu
contohnya simbol “2” secara umum telah dipahami sebagi simbol untuk bilangan
dua.Sebaliknya, bila kita menghendaki bilangan dua maka cukup dengan
menggunakan simbol “2”. Cara untuk mempelajari fakta dapat dilakukan dengan
cara hafalan, drill (latihan secara terus menerus), demonstrasi tertulis dan
lain-lain.
2)
Operasi
atau relasi
Operasi adalah pengerjaan hitung,
pengertian aljabar dan pengerjaan matematika lainnya sementara relasi adalah
hubungan antara dua atau lebih elemen. Adapun contoh operasi adalah
penjumlahan, perpangkatan, gabungan, irisan dan lain-lain sedangkan contoh
relasi antara lain sama dengan, lebih kecil dan lain-lain.
Dalam matematika dikenal berbagai macam
operasi yaitu operasi uner bila melibatkan satu elemen yang diketahui, operasi
biner bila melibatkan tepat dua elemen yang diketahui, dan operasi terner bila
melibatkan tepat tiga elemen yang diketahui.
3)
Konsep
Konsep adalah ide abstrak yang dapat
digunakan untuk menggolongkan atau mengkategorikan sekumpulan objek, apakah
objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan. Adapun contoh dari konsep ini adalah segitiga.
Segitiga adalah nama suatu konsep. Dengan konsep tersebut kita dapat membedakan
mana yang merupakan contoh segitiga dan mana yang bukan contoh segitiga.
4)
Prinsip
Prinsip adalah objek matematika yang
terdiri atas beberapa fakta, beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi
ataupun operasi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa prinsip adalah
hubungan diantara berbagai objek dasar matematika. Prinsip dapat berupa
aksioma, teorema, dalil, sifat dan
sebagainya. Sifat komutatif dan sifat
asosiatif dalam aritmetika merupakan suatu prinsip dan begitu pula dengan
teorema Phytagoras.
b.
Bertumpu
pada kesepakatan
Simbol-simbol dan istilah-istilah dalam
matematika merupakan kesepakatan atau
konvensi yang penting. Dengan simbol dan istilah yang telah disepakati dalam
matematika, maka pembahasan selanjutnya akan menjadi mudah dilakukan dan
dikomunikasikan. Hal tersebut dapat dicontohkan yakni lambang bilangan yang
digunakan sekarang adalah 1, 2, 3 dan seterusnya yang merupakan contoh
sederhana dari sebuah kesepakatan matematika.
c.
Berpola
pikir deduktif
Dalam matematika hanya diterima pola
pikir yang bersifat deduktif. Pola
pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran yang berpangkal dari
hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat
khusus. Pola pikir deduktif ini dapat terwujud
dalam bentuk yang sangat sederhana tetapi juga dapat terwujud dalam bentuk yang
tidak sederhana.
d.
Konsisten
dalam sistemnya
Dalam matematika, terdapat berbagai
macam sistem yang dibentuk dari beberapa aksioma dan memuat beberapa teorema. Ada sistem-sistem yang berkaitan namun
ada pula sistem-sistem yang dapat dipandang lepas satu dengan yang lainnya. Sistem-sistem aljabar dengan
sistem-sistem geometri dapat dipandang lepas satu dengan lainnya. Di dalam
aljabar terdapat pula beberapa sistem lain yang lebih kecil yang berkaitan satu
dengan lainnya. Demikian pula di dalam sistem geometri.
Dalam aljabar terdapat sistem aksioma
dalam grup, sistem aksioma dalam ring, sistem aksioma dalam lapangan dan
lain-lain. Di dalam geometri terdapat sistem geometri netral, sistem geometri
insidensi, sistem geometri euclid dan lain-lain. Di dalam masing-masing sistem
berlaku konsistensi artinya dalam setiap sistem tidak boleh terdapat
kontradiksi.
e.
Memiliki
simbol yang kosong dari arti
Dalam matematika banyak sekali simbol
baik yang berupa huruf latin, huruf yunani maupun simbol-simbol khusus lainnya.
Simbol-simbol tersebut membentuk kalimat dalam matematika yang biasa disebut
model matematika. Model matematika dapat
berupa persamaan, pertidaksamaan maupun fungsi. Selain itu ada pula model matematika yang berupa
gambar seperti bangun-bangun geometri, grafik maupun diagram. Sebagai contoh
model matematika seperti
tidak selalu
berarti bahwa
,
dan
berarti
bilangan. Secara sederhana, bilangan-bilangan
yang biasa digunakan dalam pembelajaran pun bebas dari arti atau makna real. Bilangan tersebut dapat berarti panjang,
jumlah barang, volume, nilai uang dan lain-lain tergantung konteks penerapan
bilangan tersebut.
Berdasarkan pemaparan tersebut, secara umum model
atau simbol matematika sesungguhnya kosong dari arti. Ia akan bermakna sesuatu bila kita mengaitkan dengan
konteks tertentu. Hal ini pula yang membedakan simbol matematika dengan simbol
bukan matematika. Kosongnya arti dari model-model matematika itu merupakan
kekuatan matematika yang dengan sifat tersebut ia bisa masuk pada berbagai
macam bidang kehidupan dari masalah teknis, ekonomi hingga ke bidang psikologi.
f.
Memperhatikan
semesta pembicaraan
Sehubungan dengan kosongnya arti dari
simbol-simbol matematika, bila kita menggunakannya kita harus memperhatikan
pula lingkup pembicaraannya. Lingkup
atau biasa disebut semesta pembicaraan bisa sempit bisa pula luas. Bila kita berbicara tentang
bilangan-bilangan maka simbol-simbol tersebut menunjukkan bilangan-bilangan
pula. Begitu pula ketika kita berbicara
tentang transformasi geometris seperti translasi, rotasi dan lain-lain maka
simbol-simbol matematikanya menunjukkan suatu transformasi pula. Benar salahnya atau ada tidaknya
penyelesaian suatu soal atau masalah juga ditentukan oleh semesta pembicaraan
yang digunakan.
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa hakikat matematika yakni ilmu pengetahuan yang berkenaan
dengan ide-ide, struktur dan konsep abstrak yang tersusun secara hierarkis dan
saling berhubungan satu sama lain yang diatur menurut hubungan yang logis serta
penalarannya bersifat deduktif.
DAFTAR PUSTAKA
Erman,
Suherman. 2001. Strategi Pembelajaran
Matematika Kontemporer. Bandung: JICA.
Abdul,
Halim Fathani. 2008. Matematika hakikat dan
Logika. Yogyakarta: AR-RUZZ Media.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar